-->
Sudah 1,5 bulan lamanya aku keluar dari kantor yang dulu, CV Kiranatama, selama hampir 2 tahun itulah aku berkutat dengan namanya pekerjaan outsourcing di perusahaan tsb, aku bersyukur kepada Alloh SWT pernah menjadi bagian dari kiranatama, karena bisa menimba ilmu tentang proses bisnis outsourcing, awalnya aku mempertimbangkan keluar karena aku sering sakit kelelahan dikarenakan jarak tempuh ke kantor yang jauh dan sering juga terjebak kemacetan, jd berpikir, mungkinkah aku bekerja di rumah ?, so maka dari itu sekarang aku mencoba menjadi suami rumahan :D , pindah kuadran dari employee ke self-employee, memutuskan bekerja telecommuting dan mencari proyek outsourcing sendiri.
Sudah 1,5 bulan lamanya aku keluar dari kantor yang dulu, CV Kiranatama, selama hampir 2 tahun itulah aku berkutat dengan namanya pekerjaan outsourcing di perusahaan tsb, aku bersyukur kepada Alloh SWT pernah menjadi bagian dari kiranatama, karena bisa menimba ilmu tentang proses bisnis outsourcing, awalnya aku mempertimbangkan keluar karena aku sering sakit kelelahan dikarenakan jarak tempuh ke kantor yang jauh dan sering juga terjebak kemacetan, jd berpikir, mungkinkah aku bekerja di rumah ?, so maka dari itu sekarang aku mencoba menjadi suami rumahan :D , pindah kuadran dari employee ke self-employee, memutuskan bekerja telecommuting dan mencari proyek outsourcing sendiri.
Tidak mudah membentuk mental juara kecuali dimulai dengan pembiasaan sejak dini, terutama ketika anak menginjak umur 1-3thn anak mulai berinteraksi dengan yang lain, bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya,mengerjakan apa yang harus dikerjakan, menjaga apa yang dimiliki, dengan demikian anak bisa menghargai orang lain
1.Perhatikan bagaimana prilaku anak sehari-hari tentunya dengan pendidikan, bimbingan dan kasih sayang orang tua, anak yang bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannnya adalah juara untuk sikapnya, anak yang menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah juara atas kesyukurannya, anak yang menerima menang kalah suatu perlombaan adalah juara atas nilai ketangguhannnya,
2.Tidak selalu membantu anak dalam segala urusannnya, berikan anak kesempatan untukmenyelesaikannya sendiri, sehinnga dia percaya diri dan tidak manja.
3.Tanamkan dalam jiwa anak nilai-nilai kebaikan apa saja, sehingga dia bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah
Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangannya perlu dievaluasi, dicari solusinya,” jelasnya. Dengan demikian anak tidak sombong, tetapi juga masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang. Yang juga perlu diperhatikan dalam membentuk mental juara ialah menghindarkan anak dari sikap individualis. Seyogyanya anak bermental juara justru mampu beresonansi dengan lingkungan sekitarnya. “Anak yang menghargai dirinya sendiri berdasarkan proses, biasanya juga akan menghargai orang lain
Jadi jelaslah juara bukan hanya di artikan menang kalahnya suatu perlombaan, juara adalah pendewasaan diri terhadap lingkungan dan memantaskan dirinya untuk berbuat sesuatu yang harus dilakukan dan ditinggalkan.
Tidak mudah membentuk mental juara kecuali dimulai dengan pembiasaan sejak dini, terutama ketika anak menginjak umur 1-3thn anak mulai berinteraksi dengan yang lain, bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya,mengerjakan apa yang harus dikerjakan, menjaga apa yang dimiliki, dengan demikian anak bisa menghargai orang lain
1.Perhatikan bagaimana prilaku anak sehari-hari tentunya dengan pendidikan, bimbingan dan kasih sayang orang tua, anak yang bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannnya adalah juara untuk sikapnya, anak yang menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah juara atas kesyukurannya, anak yang menerima menang kalah suatu perlombaan adalah juara atas nilai ketangguhannnya,
2.Tidak selalu membantu anak dalam segala urusannnya, berikan anak kesempatan untukmenyelesaikannya sendiri, sehinnga dia percaya diri dan tidak manja.
3.Tanamkan dalam jiwa anak nilai-nilai kebaikan apa saja, sehingga dia bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah
Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangannya perlu dievaluasi, dicari solusinya,” jelasnya. Dengan demikian anak tidak sombong, tetapi juga masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang. Yang juga perlu diperhatikan dalam membentuk mental juara ialah menghindarkan anak dari sikap individualis. Seyogyanya anak bermental juara justru mampu beresonansi dengan lingkungan sekitarnya. “Anak yang menghargai dirinya sendiri berdasarkan proses, biasanya juga akan menghargai orang lain
Jadi jelaslah juara bukan hanya di artikan menang kalahnya suatu perlombaan, juara adalah pendewasaan diri terhadap lingkungan dan memantaskan dirinya untuk berbuat sesuatu yang harus dilakukan dan ditinggalkan.
Bahagia, senang,damai, bangga, itulah perasaan ketika orang tua melihat, merasakan betapa berharganya anak kita, dewasa in banyak orang tua yang kehilangan kesempatan melihat pertumbuhan anaknya dengan berbagai kesibukan kerja di kantor, bisnis, arisan dll, dan dengan mudahnya menyerahkan kepengasuhannya kepada pengasuhnya.
Padahal betapa penting sentuhan, perhatian, pendidikan kasih sayang orang tua terhadap anaknya, karena itu mengapa banyak anak yang haus akan kasih sayang perhatian orang tua yang akhirnya mereka tidak sedikit terjun ke dunia malam pergaulan bebas hanya ingin melepaskan beban pikiran yang di alamainya,dengan demikian anak wajib di bekali pendidikan agama guna membentengi dirinya dari jurang kenistaan.
Orang tua yang seharusnya mengerti akan pentingnya mendidik anak untuk menyelamatkan anak dan keluarganya dari hal-hal yang negative, lebih dari itu orang tua berkewajiban untuk mengantarkan anaknya ke harapan-harapan yang lebih tinggi, sehingga orang tua tidak menyesal dan menyalahkan anak ketika anak kesandung ke dalam jurang nista.
Ibu terutama adalah sebagai remoute utama kemana anak akan diarahakan karena pungsi ibu adalah sebagai pengganti orangtua bapak di rumah ketika orangtua bapak pergi kerja, maka kenapa ibu di sebut dalam istilah bahasa arabnya “al ummu madrosatul ula” ibu adalah sekolah pertama bagi ana-anaknya.
Jika kita perhatikan betapa berharganya kita untuk anak-anak kita ketika kita menjadi tempat berlabuh anak-anak kita dimana dia dalam keadaan suka dan duka, anakpun akan merasakan hal yang sama betapa dia sangat bangga mempunyai orang tua yang sebaik mereka harapkan.
Sekali lagi jangan pernah kita sebagai orang tua mengabaikan anak-anak kita ketika mereka masih dalam naungan kita, sunnguh
Tidakkah kita cemburu melihat anak – anak yang lain meraih prestasi yang tinnggi, dan berguna bagi orang lain, jika itu terjadi pada anak kita bagaimana perasaan okita ?....membanggakan bukan? tidakkah kita bersedih melihat anak yang tingkah lakunya seperti orang hilang yang tidak tahu arah kemana tujuaannya, bagaimana perasaan kita jika itu terjadi pada anak kita ?........menyedihkan bukan?sanagat tidak diharapakan.
Orang tua yang berusaha segigih mungkin untuk membentuk anak yang berkarakter maka akan berbuah manis selain untuk anaknya derajat orang tuapun akan terangkat, sebaliknya orangtua yang tidak peduli akan pendidikan anak akan berbuah pahit untuk anak dan kelak akan menyusahkan orangtua.
Semoga anak kita bangga akan kehadiran orangtuanya ditengah –tengah mereka mereka, selamat berjuang dan salam sukses!!!
Bahagia, senang,damai, bangga, itulah perasaan ketika orang tua melihat, merasakan betapa berharganya anak kita, dewasa in banyak orang tua yang kehilangan kesempatan melihat pertumbuhan anaknya dengan berbagai kesibukan kerja di kantor, bisnis, arisan dll, dan dengan mudahnya menyerahkan kepengasuhannya kepada pengasuhnya.
Padahal betapa penting sentuhan, perhatian, pendidikan kasih sayang orang tua terhadap anaknya, karena itu mengapa banyak anak yang haus akan kasih sayang perhatian orang tua yang akhirnya mereka tidak sedikit terjun ke dunia malam pergaulan bebas hanya ingin melepaskan beban pikiran yang di alamainya,dengan demikian anak wajib di bekali pendidikan agama guna membentengi dirinya dari jurang kenistaan.
Orang tua yang seharusnya mengerti akan pentingnya mendidik anak untuk menyelamatkan anak dan keluarganya dari hal-hal yang negative, lebih dari itu orang tua berkewajiban untuk mengantarkan anaknya ke harapan-harapan yang lebih tinggi, sehingga orang tua tidak menyesal dan menyalahkan anak ketika anak kesandung ke dalam jurang nista.
Ibu terutama adalah sebagai remoute utama kemana anak akan diarahakan karena pungsi ibu adalah sebagai pengganti orangtua bapak di rumah ketika orangtua bapak pergi kerja, maka kenapa ibu di sebut dalam istilah bahasa arabnya “al ummu madrosatul ula” ibu adalah sekolah pertama bagi ana-anaknya.
Jika kita perhatikan betapa berharganya kita untuk anak-anak kita ketika kita menjadi tempat berlabuh anak-anak kita dimana dia dalam keadaan suka dan duka, anakpun akan merasakan hal yang sama betapa dia sangat bangga mempunyai orang tua yang sebaik mereka harapkan.
Sekali lagi jangan pernah kita sebagai orang tua mengabaikan anak-anak kita ketika mereka masih dalam naungan kita, sunnguh
Tidakkah kita cemburu melihat anak – anak yang lain meraih prestasi yang tinnggi, dan berguna bagi orang lain, jika itu terjadi pada anak kita bagaimana perasaan okita ?....membanggakan bukan? tidakkah kita bersedih melihat anak yang tingkah lakunya seperti orang hilang yang tidak tahu arah kemana tujuaannya, bagaimana perasaan kita jika itu terjadi pada anak kita ?........menyedihkan bukan?sanagat tidak diharapakan.
Orang tua yang berusaha segigih mungkin untuk membentuk anak yang berkarakter maka akan berbuah manis selain untuk anaknya derajat orang tuapun akan terangkat, sebaliknya orangtua yang tidak peduli akan pendidikan anak akan berbuah pahit untuk anak dan kelak akan menyusahkan orangtua.
Semoga anak kita bangga akan kehadiran orangtuanya ditengah –tengah mereka mereka, selamat berjuang dan salam sukses!!!



